Awalan

Hidup Seorang Diri Saat pandemi Kisah Anak Kelas 6 SD Ini Menyayat Hati






Merdeka.com - Jika banyak orang menganggap masa anak-anak adalah momen yang paling berharga dan tidak bisa terlupakan, maka sepertinya hal tersebut tidak dirasakan oleh Mersi Kase. Seorang siswi kelas VI Sekolah Dasar Negeri Oevetnai, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang hidup sebatang kara di rumahnya. Ia ditinggal kedua orang tuanya merantau di Kalimantan untuk memperbaiki hidup mereka.

Kondisinya yang sebatang kara diperparah pasca merebaknya COVID-19 karena membuat orangtua Merci tidak lagi mengirimkan uang. Ia tidak bisa membeli beras dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Setiap harinya, Mersi bertahan hidup dari pemberian tetangga. Kehidupannya kini jauh dari kata layak untuk anak seumurannya.

1 dari 6 halaman

Dikenal Sebagai Siswi Berprestasi
Meski hidup sebatang kara dan tidak bisa mendapatkan gizi yang cukup, namun Merci memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia dikenal sebagai siswi yang berprestasi.

Di sekolah, Merci selalu menyandang juara kelas. Bahkan saat ini Ia juga menjalankan anjuran pemerintah untuk tetap tinggal dan belajar di ruma selama pandemi ini. Sehari-hari Ia menghabiskan waktunya untuk belajar hingga menulis puisi.

2 dari 6 halaman

Ditinggal Orang Tua Merantau
Merci menceritakan jika ayahnya merantau ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan sejak Ia duduk di bangku kelas 3. Dulu masih ada sang ibu yang menemaninya. Sebelumnya Ia juga membantu sang ibu menjual kue dan sayur usai jam sekolah.

"Bapak ingin memperbaiki rumah dan ingin saya bisa sekolah, makanya merantau cari uang," ujarnya polos, Minggu (3/5).

Namun, dua tahun ditinggal sang ayah, membuat ibunya terpaksa menyusul ke Kalimantan pada akhir 2019 lalu. Merci pun kini hidup sendirian di rumah. Segala keperluannya Ia lakukan seorang diri. Yang Ia tahu, di Kalimantan kedua orang tuanya bekerja di perusahaan kelapa sawit.

Tak Lagi Menerima Kiriman Uang Sejak Pandemi
Sebelum pandemi COVID-19, setiap bulan Merci dikirimkan uang oleh kedua orang tuanya sebesar Rp100 hingga Rp200 ribu. Dari uang itu, Merci menggunakannya untuk keperluan sekolah dan makan minum di rumah.

Namun pasca pandemi COVID-19 melanda Indonesia, Merci tak lagi menerima kiriman uang. Kedua orang tuanya dirumahkan perusahaan. Mereka tidak bisa pulang menemani Merci karena larangan mudik oleh pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

"Kalau beras habis, biasa diberi keluarga atau tetangga. Kadang hanya jagung saja," ungkapnya.

Tinggal di Rumah Tanpa Listrik dan WC
Merci tinggal di Desa Weulun yang memang masih terisolir seakan luput dari perhatian pemerintah. Akses jalan menuju wilayah ini pun masih rusak. Di Dusun Wetalas, sebanyak 44 rumah warga belum menikmati listrik. Mereka menggunakan lampu pelita sebagai penerangan, termasuk di rumah Merci.

"Saya dari kelas satu sudah biasa belajar pakai pelita. Kalau jam tidur dimatikan, agar hemat minyak tanah," kata Merci.

Selain belum ada listrik, rumah Merci pun belum memiliki WC. Merci pun terpaksa harus ke hutan jika hendak buang air.

Bercita-cita Menjadi Dokter
Meski kini hidup dalam serba kekurangan, namun Merci memiliki cita-cita yang tinggi. Ia bercita-cita menjadi seorang dokter, sehingga bisa berguna bagi banyak orang.

"Biar pakai pelita, tetapi saya dari kelas satu sampai kelas enam, selalu juara satu atau dua. Saya ingin jadi dokter, doakan supaya orang tua saya bisa kumpul uang," pinta Merci.

Sedih Lewati Ulang Tahun Seorang Diri
Merci ternyata berulang tahun di tanggal 2 Mei kemarin. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, tidak ada yang spesial di hari ulang tahunnya. Tidak ada kue ulang tahun atau ucapan seperti anak-anak lain seusianya.

Air matanya menetes saat Ia mengaku tak bisa menelepon orang tuanya di hari bahagianya. Padahal, ia sudah rela berjalan kaki ke desa tetangga hanya untuk mengecas handphonenya.

"Malamnya bapa dengan mama telepon dan minta saya siap cas handphone, karena besoknya tanggal 2 Mei, saya ulang tahun. Paginya saya jalan kaki cas di rumah keluarga. Setelah cas, saya kembali ke rumah untuk menelepon, tetapi tidak diangkat, mungkin bapa dengan mama sedang bekerja," tuturnya.

(mdk/far)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hidup Seorang Diri Saat pandemi Kisah Anak Kelas 6 SD Ini Menyayat Hati "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel